DalamEnskilopedia Al-Qur'an, makna dari kata al-haq berkisar pada kemantapan sesuatu dan kebenarannya. Sesuatu yang terjangkau oleh akal dan dibenarkan olehnya juga disebut haq, meskipun sifatnya relatif, pasalnya bersumber dari pemilik akal (manusia) yang juga relatif. Makna di atas terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 26: إِنَّ
Atasdasar itu, kebenaran adalah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Kebenaran bukan suatu yang nisbi/relatif yang setiap orang bisa mengklaimnya seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya. Kebenaran bukan pula diambil dari "kitab suci" atau dari selain ajaran Islam yang Allah turunkan. Bukan pula Islam sebagai "nilai generis
KebenaranItu Milik Allah Bukan Milik Produk Pemikiran. 8 Jan, 17. Kebenaran itu milik Allah bukan milik produk. Read More. Search. Search. Recent Posts. Makna Beriman Kepada yang Ghaib; Orang yang Berhati Mulia; Hakikat Berdzikir; Rahasia Kalimat Basmalah; Pentingnya Belajar Mengendalikan Hawa Nafsu;
JanganTakut dan Jangan Bersedih Allah Bersama Kita. Home; My Facebook; My Twitter; My Ooiya; Download; Childcare; Beranda
Beritadan foto terbaru Kebenaran Hakiki Milik Allah - Tarekat Naqsyabandiyah Rayakan Idul Fitri Lebih Awal Tuan Guru Ingatkan Kebenaran Hakiki Milik Allah Selasa, 2 Juni 2020 Cari
KebenaranBukan Hanya Milik Allah! Banyak di antara kita sering berdebat tentang kebenaran. Perdebatan yang terkadang sering tidak mendapatkan titik temu. Masing masing pihak cenderung menganggap kebenaran yang diklaim sebagai kebenaran menurut versi dia adalah kebenaran yang hakiki. Tentu saja hal ini akan membuat perdebatan mengenai kebenaran
Kebenaranmutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang disebut dengan kebenaran relatif. Kebenaran mutlak itu mempunyai sifat universal ( berlaku bagi
Kemuliaanitu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. (QS al-Munafiqun [63]: 8). Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah.[5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa' (4) ayat 138-139 di atas.
TakAda Kebenaran Yang Hakiki Kecuali Milik ALLAH SWT Minggu, 13 Desember 2015. Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya
zzPHD. Suatu saat, penulis menemukan gambar yang menarik di internet. Pada gambar tersebut, terbaring gambar angka tidak jelas 6 atau 9 secara horizontal di lantai. Di ujung-ujung gambar angka tersebut terdapat dua orang yang berdiri saling berhadap-hadapan. Orang pertama menunjuk gambar angka yang tergeletak di lantai dan berkata “six!” karena dari sudut pandangnya terlihat seperti angka 6, sementara orang kedua menunjuk gambar angka yang sama dan berkata “nine!” karena dari sudut pandangnya terlihat seperti angka 9. Di bawah gambar tersebut kemudian tertulis caption “Just because you are right, does not mean, I am wrong. You just haven’t seen life from my side” hanya karena anda benar, bukan berarti saya salah. Anda hanya belum melihatnya kehidupan dari perspektif saya, mengindikasikan kebenaran tidaklah tunggal dan bersifat relatif. Dalam diskusi keagamaan, ada juga yang menggunakan argumen sejenis untuk mengutarakan pandangannya. Ketika ditanya benar/salahnya perilaku homoseksual, seorang mahasiswa Muslim dengan gagah atau gegabah mengatakan “Kebenaran itu hanya milik Allah! Kita tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain!” Ketika ditanya tentang status kebenaran ajaran agamanya, seorang cendekiawan Muslim berkilah “Benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lain. Kebenaran itu relatif, yang mutlak hanyalah Allah.” Perkataan-perkataan tersebut mengesankan bahwa sepanjang diucapkan manusia, kebenaran itu relatif. Manusia tidak mungkin dan tidak akan pernah tahu kebenaran yang hakiki, karena ia hanyalah milik Allah. Oleh karenanya, haram hukumnya jika merasa benar – apalagi sampai menyalahkan orang lain. Benarkah hanya Allah yang tahu kebenaran? Tulisan ini dibuat untuk menjawab permasalahan tersebut. Untuk menilai kevalidan klaim “kebenaran hanya milik Allah”, pertama harus ditanyakan dulu, “mungkinkah manusia mengetahui?” Jika jawabannya “tidak”, maka dengan sendirinya benarlah klaim tersebut – sepanjang masih percaya adanya Allah. Namun demikian, benarkah begitu? Inilah yang menjadi titik tolak pembahasan tulisan yang sedang anda baca. Pertanyaan “mungkinkah mengetahui” merupakan permasalahan asasi dalam epistemologi. Pertanyaan ini sudah mengemuka dari sejak zaman Yunani kuno. Pada zaman tersebut lahir aliran yang bernama sofisme. Menurut kaum sofis, semua kebenaran itu relatif. Ukuran kebenaran itu manusia man is the measure of all things. Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung Sofisme klasik kemudian bereinkarnasi menjadi skeptisisme dan Penganut skeptisisme senantiasa bersikap skeptis terhadap segala hal. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara termasuk yang qathi dan bayyin dalam agama harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Sementara itu, penganut relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut paham ini, kebenaran berada dan tersebar di mana-mana, namun semuanya bersifat Islam tentu saja menentang paham sofisme dengan segala macam bentuk reinkarnasinya. Dari sejak awal surat, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Al-Fatihah 1 6-7 Ayat ini kita panjatkan sekurang-kurangnya 17x sehari dalam shalat wajib. Maka dari itu, sebenarnya sangat absurd jika seorang Muslim bersikap emoh terhadap kebenaran, meskipun dibungkus dengan kemasan’ yang cantik seperti “kebenaran hanya milik Allah”. Mengetahui tidaklah mustahil. Jadi bukan seperti yang sering diklaim oleh kaum sofis, relativis, skeptik, dan agnostik serta para penurut dan pembeonya hingga akhir zaman. Dalam hal ini, keyakinan dan pendirian Ulama kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah disimpulkan secara ringkas dan akurat oleh imam An-Nasafi dalam kitabnya Haqaa’iq al-asyyaa’ tsaabitah, wa l-ilmu bihaa mutahaqqiq, khilaafan li s-suufasthaa’iyyah. Artinya, hakikat quidditas atau esensi segala sesuatu itu tetap dan oleh karena itu bisa ditangkap, tidak berubah sebab yang berubah-ubah itu hanya sifatnya, , , atau -nya saja, sehingga segalanya bisa diketahui dengan jelas, sehingga manusia bisa dibedakan dari monyet, ayam tidak disamakan dengan burung, roti dengan batu, atau akar dengan ular. Demikian pula hal-hal tersebut di atas, semuanya tidak mustahil untuk diketahui dan dimengerti, dapat dibedakan dan bisa dijelaskan. Firman Allah SWT dalam surat Az-Zumar 39 9 Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?5 Mungkin ada yang berkomentar, “Pada kenyataannya para ulama juga berbeda pendapat dalam perkara agama, bukankah itu berarti kebenaran itu relatif?” Mengenai hal tersebut, Nashruddin Syarief berkomentar dalam bukunya Menangkal Virus Islam Liberal sebagai berikut Terkait dengan adanya ikhtilaf di antara ulama yang sering dijadikan pembenar bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, maka tentu harus dibedakan dulu mana yang qath’i dan mana yang zhanni, mana yang ushul dan mana yang furu’. Karena pastinya para ulama tidak mungkin berikhtilaf dalam masalah yang ushul dan qath’i. Kalaupun masih ada juga yang berbeda dalam kedua masalah tersebut, maka itulah orang-orang yang masuk kategori sayyi’ah dan Pun demikian bisa saja ada yang membantah “para ulama juga biasa menyebut Namun Tuhan lebih dan paling mengetahui apa yang benar’ wa Allahu a’lam bi-s shawaab, bukankah itu berarti hanya Tuhan yang paling mengerti kebenaran?” Mengenai hal tersebut, Dr. Syamsuddin Arif memberikan tanggapannya dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Berikut tanggapannya Memang betul, ketika menafsirkan kitab suci, kita tidak boleh mengklaim bahwa kita benar-benar telah memahami maksud firman Tuhan. Tidak boleh merasa seolah-olah kita telah menangkap maksud kata-kata Tuhan yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa para ulama salaf selalu mengakhiri fatwa dan karya mereka dengan kalimat “Namun Tuhan lebih dan paling mengetahui apa yang benar” wa Allahu a’lam bi-s shawaab. Kalimat ini sering disalahpahami. Para ulama salaf mengatakan ini bukan karena mereka ragu-ragu atau skeptis, bukan pula karena mereka menganut relativisme. Dalam masalah keilmuan, ulama salaf sangat tekun, teliti, dan teguh dalam berpendirian dan berargumentasi, sebagaimana dapat dilihat dalam literatur fiqih dan ilmu kalam. Kalimat tersebut mereka ucapkan semata-mata karena adab kepada Tuhan’ yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun dengan sesama manusia, sikap yang ditunjukkan adalah kesanggupan menerima dan mengikuti kebenaran, dan bukan menampik atau mempertahankan Jadi, mengetahui itu mungkin saja dicapai oleh manusia. Dalam Islam pun ada perkara yang qath’i, bersifat pasti. Contohnya, dari dulu sampai sekarang Al-Ikhlas pasti dimaknai sebagai Tauhid. Dalam Islam, tidak pernah keesaan Allah dimaknai sebagai “esa tapi beranak-pinak”, “esa tapi termanifestasi dalam beberapa jenis Tuhan”, dll. Sama halnya dengan perintah shalat, shaum Ramadhan, zakat, naik haji, dll semuanya adalah tetap. Setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, remaja maupun dewasa, tinggal di negara Islam maupun negara sekuler, tetap wajib melaksanakannya. Sama juga halnya dengan keharaman khamr, zina, dan homoseksual. Semuanya tetap dan independen terhadap zaman – untuk menolak yang beranggapan bahwa ajaran Islam seluruhnya harus disesuaikan dengan zaman. Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui? Tentunya dengan belajar, mencari ilmu. Berkenaan dengan ini, kita beruntung karena terdapat warisan khazanah intelektual Islam bukan warisan doktrin yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak perlu bersikap relativis ataupun skeptis, sebab manusia bisa tahu yang benar. Wallahu Alam Daftar Pustaka [1] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, hlm. 89 dalam Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 146. [2] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 146-147. [3] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 140-141. [4] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 147. [5] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 203-204. [6] Nashruddin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Bandung Persis Pers, 2010, hlm. 148. [7] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta Gema Insani, 2008, hlm. 151-152.
Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai para pencintaku, para penggemar ilmu yang selalu mempelajari aku, membacaku, membuka lembaran demi lembaranku setiap harinya.. janganlah pernah berhenti mempelajariku…… kenali aku…… pahami aku….” “Janganlah pernah merasa puas atas nilai kebenaran yang kalian peroleh melalui aku saat ini,.. karena sesungguhnya nilai kebenaran yang kalian peroleh, belumlah menggapai kebenaran yang Hakiki, jauh penggemarku…… masih sangat jauh. Bukankan kebenaran yang Hakiki hanya milik ALLAH semata?” “Mohon maaf para penggemarku, aku hanya mampu mengarahkan dan mendekatkan kalian kepada kebenaran yang Hakiki, tapi aku tak mampu membuat kalian untuk meraihnya secara utuh” “Walaupun seluruh pepohonan di muka bumi ini di jadikan pena dan tujuh lautan dijadikan sebagai tinta, bahkan bila ditambahkan sebanyak itu pula… Tak akan penah habis hikmah ilmu dan khazanah yang terkandung di dalamku tuk kalian raih kepahamannya..” “Sekali lagi penggemarku, kebenaran Hakiki hanyalah milik ALLAH dan tak satupun makhluk yang mampu menggapainya secara utuh. Untuk itu janganlah kalian merasa paling pintar.. paling benar… mudah menyalahkan pendapat orang lain, dengan dalil ayat-ayat yang terkandung di dalamku… jangan sekali-kali pencintaku… Karena bila itu terjadi… maka kalian akan terpecah belah menjadi banyak golongan dan kalian akan saling bermusuhan.. saling bertikai bahkan saling menghabisi satu sama lainnya. Bukankah itu yang terjadi saat ini..?” “Wahai penggemarku… keberadaanku, bukanlah untuk menjadi mudarat bagi alam semesta ini. Sadarilah wahai penggemarku, perbedaan yang terjadi diantara kalian dalam memahamiku adalah merupakan bukti nyata.. betapa terbatasnya kemampuan kalian tuk memahamiku. Bila untuk memahamiku saja kalian tak mampu, bagaimana mungkin kalian akan mampu menggapai segala ke “Maha” an NYA ???” “Keberadaanku adalah sebagai penebar keselamatan di alam semesta ini.. pembawa rahmat bagi sekalian alam.. bukan penebar ketidak nyamanan.. bukan pencipta kegelisahan.. bukan pemecah belah di antara kalian.. bukaan.. sama sekali bukaan..!! Bagaimana mungkin tuk hal yang sangat sederhana ini saja, kalian tak mampu memahaminya..? Apakah yang ada di benak kalian.. sehingga walaupun kalian sudah mempelajariku, namun… kalian acapkali bertindak bertentangan dengan peruntukkanku di alam semesta ini..?” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia yang teramat sangat kucintai.. sebenarnya.. cukuplah kalian ikuti saja bimbinganku, arahanku, untuk mengenali diri kalian sendiri lebih mendalam, tentang keberadaan kalian, tentang peruntukan kalian diciptakan.. serta tentang beban amanah apa yang kalian emban dan wajib jalankan, sebelum hayat berakhir meninggalkan dunia ini. Dan bila kalian isqamah mengikuti bimbinganku tuk memahami dan mengenali tentang diri kalian sendiri.. niscaya kelak kalian akan lebih memahami dan mengenali akan Tuhan kalian yang sebenarnya.. ALLAH SWT, Pencipta kalian semua” “Ooooh… penggemarku … kalian terlalu muluk … sangat terlalu muluk bila kalian telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, dan kalian memutuskan untuk berhenti mempelajariku.. memahamiku…” “Jangan lakukan itu penggemarku, jangan lakukan… pelajari aku terus, kenali aku terus… pahami aku terus…. amalkanlah segala yang telah kalian pahami.. Karena bila kalian berhenti mempelajariku dan telah merasa mendapatkan kebenaran yang Hakiki, aku khawatir kalian akan menjadi takabur.. arogan.. sombong. Aku sangat yakin, seyakin-yakinnya itulah kesesatan yang teramat besar !!! layaknya syaitan yang sombong dan terkutuk selamanya dan akan menjadi penghuni abadi di neraka jahanam” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. bersyukurlah atas ke Islaman kalian yang sudah terbawa sejak lahir.. karena apabila kalian istiqamah dalam menjalankan shalat.. paling tidak sebanyak 9 kali dalam sehari di waktu-waktu shalat, kalian bersyahadat.. menyatakan kesaksian bahwa tiada tuhan selain ALLAH dan Rasulullah Muhammad saw sebagai utusan yang membawa risalah yang terkandung di diriku..” “Namun.. realitanya bagaimana dengan wujud nyata atas kesaksian kalian tersebut..? apakah kesaksian kalian sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai kumpulan firmanNYA yang mampu menghantarkan kalian kepada petunjuk yang benar dalam menggapai ridhaNYA ? Apakah kesaksian kalian atas Rasulullah Muhammad saw, sudah terwujud kedalam sikap.. untuk membacaku dan mempelajari aku sebagai risalah yang beliau sampaikan kepada kalian agar terselamatkan di dunia maupun akhirat ? Yaa.. dengan mempelajari aku.. memahami aku.. adalah sebuah cara yang tepat dalam memperbaiki kualitas ke Islaman dan syahadat kalian semua” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. dalam sehari.. paling tidak 17 kali dalam shalat kalian membaca bagian dariku yaitu surat “Al Faatihah” dan berdoa meminta ditunjuki kepada jalan yang lurus. Tidakkah kalian sadar, bahwa jalan yang lurus sebenarnya sudah ALLAH sediakan melalui aku.. kumpulan dari segala petunjukNYA, yang tidak ada keraguan di dalamnya bagi orang-orang yang bertaqwa..?? Lantas mengapa engkau masih saja belum tergerak atau enggan mencari petunjuk yang telah disediakan di dalam diriku ?” Yaa.. memang salah satu namaku adalah Al Hudaa, petunjuk atas segala problematika yang ada di alam semesta ini bahkan tuk pencapaian kebaikan akhirat sekalipun ada di dalam diriku, dan itu semuanya DIA sediakan dan peruntukkan bagi kalian semua. Sadarilah itu.. Wujudkanlah permintaan dan doa kalian dalam shalat itu dengan membaca aku, mempelajari aku, memahami aku, demi meraih petunjuk jalan yang lurus atas segala hal dan masalah yang kalian hadapi” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai… sebagian manusia yang belum muncul kecintaannya padaku… seandainya kalian Islam.. mengapa kalian belum juga menyentuh diriku.. membuka lembaran demi lembaran diriku.. bencikah kalian pada ku..? Tidak rindukah kalian kepadaku, sang kitab termulia yang pernah ada di sepanjang zaman ? “Berapa saat kah dalam keseharian kalian teringat akan aku.. terbersit tentang keutamaanku.. pernahkah kalian sempatkan sedikit waktu saja tuk menyentuhku.. melihatku.. membacaku ? Ketahuilah.. aku sangat merindukan kalian.. teramat sangat rindu..” “Ketika aku akan diturunkan kemuka bumi ini, betapa ALLAH telah mempersiapkan segala kondisi yang terbaik untukku.. IA pilihkan waktu terbaik diantara seluruh waktu yang pernah ada tuk menurunkanku.. Lailatul Qadr..” “IA pilihkan panglima malaikat tertinggi tuk membawa aku ke permukaan bumi ini.. Jibril yang perkasa..” “IA pilihkan sosok manusia terbaik sepanjang masa tuk menerima kehadiran ku.. baginda Rasulullah Muhammad saw.. yang dengan segala pengorbanan harta, jiwa dan raga serta waktu dalam hidupnya, ia persembahkan demi sampainya aku kepada kalian semua.. begitu pula dengan para sahabatnya yang begitu setia, mulia dan total dalam memperjuangkan keberadaanku agar sampai kepada era kalian saat ini” “Entah sudah berapa banyak nyawa para pejuang Islam yang sudah mengorbankan dan merelakan jiwanya demi memperjuangkan syiar akan keberadaanku, sehingga sampailah aku kepada masa kalian saat ini..” “Dengan segala keutamaan pristiwa diturunkannya aku ke muka bumi ini dan perjalanan sejarah yang luar biasa itu.. Lantas mengapa dengan mudah dan ringannya kalian tak pedulikan aku..? memandang sebelah mata padaku..?” Seandainya kalian tau, bagaimana kelak aku akan dapat menerangi dan melapangkan makam kalian.. membela kalian di hari perhitungan kelak.. tentu kalian akan menghampiriku waktu demi waktu.. membawaku kemana kalian pergi.. Tapiiii.. bagaimana aku akan mampu melakukan semua itu.. tanpa munculnya kecintaan kalian pada ku..??” Seandainya saja Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya manusia, “MUNGKIN” ia akan berkata “Wahai manusia.. teramat sangat banyak sebenarnya yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua, seandainya aku diberikan kemampuan bicara layaknya kalian.. yang dapat didengar dengan jelas ditelinga.. tentunya aku tak akan pernah bosan tuk menasehati.. mengingatkan.. dan membimbing kalian semua, sepanjang hari tanpa henti.. demi menuju kepada keridhaanNYA” “Aaah sudahlah… nyatanya.. sampai dengan saat ini…. aku tidak diberikan kemampuan untuk berkata-kata seperti layaknya kalian.. yang setiap waktu bisa didengarkan ditelinga manusia… ini hanyalah sebuah kemungkinan.. seandainya…. seandainya saja aku Al Qur’an mampu berkata-kata layaknya kalian wahai manusia…” PENULIS Aku yang tersesat dan merindukan suara Al Quran tuk membimbingku JANGAN KLIK DISINI
Tafsir Surat an-Nisa’ 138-139 }بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ~ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ للهِ جَمِيعًا {~ Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. An-Nisa’ 138-139 Tafsir Ayat Allah Swt. menyatakan kepada Rasulullah saw. agar beliau memberitahukan “kabar gembira” kepada orang-orang munafik, yaitu azab yang sangat pedih Basysyir al-munâfiqîn bianna lahum adzâb[an] alîma. Allah sengaja menggunakan kata basysyir beritahukanlah “kabar gembira”. Hanya saja, “kabar gembira” yang disampaikan kepada mereka bukannya pahala atau surga, melainkan azab. Penggunaan kata basyârah kabar gembira dalam konteks seperti ini merupakan uslûb tahakkum gaya bahasa sarkasme,[1] dengan maksud untuk menghina mereka. Padahal azab yang akan ditimpakan kepada mereka adalah azab yang sangat pedih, sebagaimana yang dinyatakan dengan kata alîm sangat pedih yang merupakan bentuk mubâlaghah klimaks, yang dimaksud tidak lain adalah neraka jahannam. Allah Swt. kemudian menjelaskan ciri kemunafikan mereka, yaitu mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dan teman setia dengan meninggalkan orang-orang Mukmin al-ladzîna yattakhidzûna al-kâfirîna awliyâ’ min dûni al-mu’minîn. Menurut Ibn al-Abbas, orang-orang kafir yang dijadikan pelindung dan teman setia orang-orang munafik—dalam konteks turunnya ayat—ini adalah Yahudi Bani Qaynuqa’.[2] Mereka beranggapan, kemuliaan kekuatan dan kemenangan itu akan berpihak kepada orang kafir, sehingga mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung dan teman setia. Namun, anggapan tersebut dibantah oleh Allah dengan istifhâm inkâri pertanyaan retoris apakah mereka mencari kemuliaan pada mereka orang-orang kafir itu ayabtaghûna indahum al-izzah?[3] Pertanyaan tersebut tidak memerlukan jawaban, karena jawabannya sudah jelas. Sebab, mustahil mereka bisa menemukan kemuliaan tersebut pada orang-orang kafir. Sesungguhnya kemuliaan itu semuanya hanya milik Allah fainna al-izzata li Allâhi jamî’a. Dalam kalimat tersebut, Allah menggunakan huruf fa at-taqîb untuk menyatakan sebab, yang mempunyai konotasi “menjelasan alasan” penolakan Allah terhadap kemustahilan mencari kemuliaan pada selain Allah.[4] Dengan begitu, seakan-akan Allah hendak menyatakan, “Mungkinkah mereka mencari kemuliaan pada mereka orang-orang kafir?” Jawabannya, “Tentu, tidak mungkin.” Sekalipun jawaban ini tidak dinyatakan secara eksplisit, dengan pertanyaan yang berbentuk penegasian itu orang pasti bertanya, “Mengapa tidak mungkin?” Karena itu, Allah menjelaskan alasan-Nya, “Sebab, sesungguhnya kemuliaan itu semuanya hanya milik Allah fainna al-izzata li Allâhi jamîa.” Allah menegaskan alasan-Nya dengan menggunakan huruf ta’kîd stressing/ penegasan inna dan lâm li hashr yang berfungsi untuk mengkhususkan, yaitu li Allâh hanya milik Allah; ditambah lagi dengan al li al-istighrâq yang berfungsi menyedot pada kata al-izzah semua kemuliaan; dan dikuatkan lagi dengan kata jamîa semuanya. Semua itu semakin menguatkan kesan bahwa seluruh kemuliaan—baik yang ada di langit dan bumi maupun di dunia dan akhirat—hanya milik Allah. Memang disebutkan pula bahwa kemuliaan itu ada pada selain Allah, seperti Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya وَِللهِِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ ~ Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya. QS al-Munafiqun [63] 8. Akan tetapi, kemuliaan tersebut merupakan pancaran dan anugerah dari Allah.[5] Inilah secara umum tafsir surat an-Nisa’ 4 ayat 138-139 di atas. Wacana Tafsir Hakikat Nifâq dan Kemuliaan al-Izzah Nifâq diambil dari kata nafiqâ’ bukan dari nafaq. Nafiqâ’ adalah salah satu ruang bagi yarbû’ jerboa, binatang sejenis tupai, yang sebagian ruangannya ditutupi, sementara sebagian yang lain dibuka. Kata nifâq dengan konotasi seperti ini sangat populer di kalangan orang Arab. Al-Quran memberikan konotasi lain, yaitu “di dalam Islam mempunyai wajah yang berbeda dengan di luar Islam” atau munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَاخَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ Bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Sebaliknya, bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian; kami hanyalah berolok-olok.” QS al-Baqarah [2] 14. Konotasi kata nifaq tersebut sebelumnya belum pernah dikenal oleh orang Arab. Artinya, istilah dan konotasi tersebut benar-benar merupakan istilah syarî yang diperkenalkan oleh Islam.[6] Dengan demikian, nifâq adalah sikap menyembunyikan apa yang ada dalam hati batin yang berbeda dengan apa yang ada di permukaan lahir.[7] Dalam hal ini, taqiyyah—sekalipun ada taqiyyah yang kemudian dibolehkan, sedangkan nifâq tidak—termasuk bentuk nifâq. Orangnya disebut munâfiq. Menurut al-Jurjani, munâfiq adalah orang yang memberikan kesaksiannya sebagai orang yang beriman dan melaksanakan perintah dan larangan Allah, tetapi tidak meyakininya.[8] Orang munafik memang kata-kata dan janjinya sulit dipercaya. Di samping itu, mereka adalah para pengkhianat yang tidak pernah amanah.[9] Mereka adalah orang-orang oportunis yang menjilat sana-sini untuk mencari peluang demi keuntungan pribadi mereka. Ketika orang lain berjuang dengan mengorbankan harta, darah, dan waktu, mereka hanya duduk di belakang sebagai penonton. Giliran orang lain berhasil, mereka maju ke depan menampilkan dirinya seolah-olah mereka adalah pejuang. Mereka tidak mau menanggung risiko, tetapi ingin untung. Inilah sifat orang-orang munafik. Padahal, keimanan menuntut pengorbanan sebagai bukti kebenaran imannya. Tanpa itu, keimanan tersebut tidak akan pernah tampak. Allah Swt. berfirman أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? QS al-Ankabut [29] 2. Surat an-Nisa’ ayat 138-139 tersebut juga menjelaskan ciri-ciri orang munafik, antara lain, menjadikan orang kafir sebagai pelindung dan teman setia wâlî. Menjadikan orang kafir sebagai wâlî juga berkonotasi meminta bantuan, berteman dan membangun cinta kasih di antara mereka, dan sebagainya.[10] Surat an-Nisa’ ayat 140 juga menjelaskan, bahwa ikut nimbrung dalam pembicaraan dengan orang kafir juga dilarang. Ini juga merupakan ciri lain orang munafik. Sebab, dengan itulah, mereka akan terlibat dengan orang-orang kafir untuk membuat makar terhadap Islam dan kaum Muslim, sementara sikap nifâq—yang notabene tidak ingin memnaggung risiko—itu cenderung mengikuti apa yang dikehendaki oleh orang-orang kafir. Ini merupakan sifat nifâq yang—merupakan konsekuensi dari sikap oportunis mereka— paling berbahaya. Tentu karena ada anggapan, bahwa sikap itulah yang akan mendatangkan kemuliaan mereka. Padahal, tidak ada kemuliaan kecuali hanya dengan kembali kepada Allah. Allah Swt. sebagai Pemilik segala kemuliaan— akan memberikan kemuliaan kepada Rasul-Nya, juga kepada orang-orang Mukmin, karena mereka menaati-Nya. Dengan kata lain, kemuliaan itu seharusnya dicari dengan jalan menjadikan Allah dan orang-orang Mukmin sebagai wâlî pelindung dan penolong mereka, bukan orang kafir. Wacana Tafsir Bahaya Sikap Nifâq Melihat realitas nifâq di atas, jelas bahwa sikap seperti ini sangat berbahaya. Bahaya sangat dahsyat yang akan selalu mengintai sikap hipokrit ini adalah muwâlah al-kuffâr ber-wâlî kepada orang kafir; menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia dan pelindung serta meminta bantuan dan membangun cinta kasih dengan mereka. Bahkan, ketika sikap hipokrit dan muwâlah tersebut sampai pada klimaksnya, pasti akan menjadi ancaman yang mematikan bagi umat, jika mereka hanya berdiam diri, tidak mengubahnya. Akibatnya, mereka akan tertimpa berbagai kenistaan, kehinaan, dan musibah. Contoh terbaik adalah kondisi yang dialami oleh kaum Muslim saat ini. Para penguasa mereka adalah orang-orang oportunis yang sanggup menjual diri mereka untuk menjadi kaki tangan negara-negara kafir agar dapat atau tetap berkuasa. Mereka tidak berani mengucapkn kata “Tidak!” terhadap setiap keinginan dan kemauan negara imperialis kafir. Bahkan, mereka dengan senang hati memata-matai, menangkap, menyiksa, dan membunuh rakyatnya sendiri untuk mendapatkan keridhaan tuan mereka, yakni negara-negara imperialis kafir itu. Mereka terhipnotis oleh propaganda negara-negara imperialis kafir, bahwa kemuliaan ada di pihak mereka. Mereka tidak sendiri, karena mereka juga didukung oleh agen-agen intelektual; baik yang berbaju ulama, ilmuwan, ataupun pakar. Mereka adalah orang-orang munafik. Mereka beranggapan bahwa dengan ber-muwâlah kepada orang dan negara-negara imperialis kafir itu mereka akan mendapatkan kemuliaan. Padahal, sebenarnya semuanya itu hanya ilusi; persis seperti yang digambarkan oleh Allah dalam al-Quran مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. QS al-Ankabut [29] 41. Allah mengibaratkan kemuliaan yang dibangun dengan dukungan, bantuan, dan uluran tangan dari orang kafir itu laksana rumah laba-laba yang sangat rapuh dan hina. Akan tetapi, kebanyakan orang munafik itu tidak sadar. Bagaimana Benazir Buttho, yang menjadi presiden Pakistan atas dukungan Amerika, akhirnya dijatuhkan, kemudian digantikan dengan Nawaz Sharif. Nawaz Sharif juga sama, dijatuhkan melalui kudeta militer yang juga didalangi Amerika hingga berhasil menaikkan Musharraf. Hal yang sama juga dialami oleh Soekarno dan Soeharto. Kemuliaan ilusif mereka akhirnya rontok dengan hina, sebagaimana hancurnya rumah laba-laba yang begitu mudah, dan sangat hina. Inilah realitas yang tidak disadari oleh orang-orang munafik. Sebab, mereka sanggup melakukan apa saja untuk meraih tujuan sesaat mereka. Karena itu, orang-orang munafik itu bukanlah orang Mukmin, sehingga Allah tidak menyebutnya dengan menyatakan faulâika hum al-mu’minûn Mereka itulah orang-orang Mukmin. Sebaliknya, Allah menyatakan فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ Mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman. QS an-Nisa’ [4] 146. Mereka juga layak diganjar dengan siksaan yang amat dahsyat, yakni dengan ditempatkan di bagian neraka yang paling bawah, dan mereka tidak akan pernah menemukan satu penolong pun untuk menolong mereka dari azab Allah itu. Allah Swt. berfirman إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. QS an-Nisa’ [4] 145. Wacana Tafsir Mengubah Kemunafikan menjadi Kemuliaan Nifâq merupakan dosa besar. Setiap perbuatan dosa bisa ditebus dengan bertobat kepada Allah. Dalam kasus nifâq, Allah telah menetapkan cara bagi orang munafik agar dosanya diampuni oleh Allah dan kemunafikannya berubah menjadi kemuliaan Pertama, mereka harus bertobat, yaitu meninggalkan sikap nifâq-nya. Hal itu mengharuskannya bersikap istiqâmah konsisten lahir-batin. Bukan lahirnya menyatakan A, sementara batinnya menyatakan B. Kedua, mereka harus memperbaiki niat dan amal mereka ishlâh, tidak riya. Ketiga, mereka harus berpegang teguh pada Allah i’tshâm bi Allâh, yakni dengan cara berpegang teguh pada Kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya, apapun risiko dan konsekuensinya; sekalipun harus mengorbankan harta, darah, dan kedudukan mereka. Keempat, mereka harus memurnikan agama dan keberagamaannya hanya untuk Allah ikhlâsh dînihim li Allâh, yaitu tidak mengharapkan yang lain, selain Allah Swt. Semata; sekalipun untuk itu ia harus menuai berbagai cacian dan makian para pencaci maki. Jika kemunafikan tersebut berhasil diakhiri, sebaliknya empat langkah yang ditetapkan oleh Allah di atas ditempuh, maka pasti Allah akan memuliakan mereka, dan memberikan kemuliaan yang hakiki, bukan kemuliaan semu dan ilusif. Mereka, bersama-sama orang-orang Mukmin, akan mendapatkan pahala dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt. [Hafidz Abdurrahman, MA.] [1] As-Shabûni, Shafwah at-Tafâsîr, juz I, hlm. 314. [2] Al-Qurthûbi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, juz V, hlm. 417. [3] As-Shabûni, Ibid, juz I, hlm. 314. [4] As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 526; al-Baydhawi menyebutnya fâ’ isti’nâf yang berfungsi memulai kalimat baru, yang berkonotasi ta’lîl atau ta’qîb; untuk menjelaskan alasan mengapa mustahil mencari kemuliaan pada selain Allah, sebab kemuliaan itu hanya milik Allah. Lihat, al-Baydhâwi, Tafsir al-Baydhâwi, juz III, hlm. 207. [5] As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, juz I, hlm. 526. [6] Ibn Mandhûr, Lisân al-Arab, juz X, hlm. 358. [7] Al-Baydhawi, Tafsîr al-Baydhâwi, juz II, hlm. 268; An-Nawâwi, Syarh Shahîh Muslim, juz II, hlm. 47. [8] Al-Jurjâni, at-Ta’rîfât, juz I, hlm. 60. [9] An-Nawâwi, Syarh Shahîh Muslim, juz II, hlm. 46. [10] An-Nabhâni, as-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, Dâr al-Ummah, Beirut, cet. III, 1994, juz II, hlm. 264.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Foto - Benar dan salah, dua keadaan yang berseberangan, yang pasti adanya. Kalau tidak benarmaka pasti salah. Kebenaran itulah yang selalu dicari manusia, bisikan kebenaran yang selalu menyusup kedalam hati nurani manusia. Seperti apakah sebenarnya benar itu ? Melalui jerih payah manusia akhirnya ditemukan salah satu nilai kebenaran yang kemudian kita kenal dengan KEBENARAN ILMIAH. Kebenaran yang ditemukan melaluibudi daya manusia. Melalui berbagai uji coba dan penelitian sehingga akhirnya membentuk satu sikap, bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang ilmiah adalah kebenaran yang hakiki. Akan tetapi kebenaran ilmiah itu, ternyata tidak abadi, karena kebenaran hasil penelitian yang terdahulu akan dimentahkan atau terbantahkan dengan hasil penelitian berikutnya. Kontradiksi hasil penelitian menjadikan nilai kebenaran itu berubah, karena ternyata kebenaran ilmiah besifat empiris. Maka orang mulai mencari kebenaran yang lain dan itu adalah KEBENARAN RELATIF. Kebenaran relatif yang bertumpu pada nilai-nilai pragmatisme yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran itu sendiri dengan lebih mengutamakan azas manfaat. Kebenaran relatif cenderung tidak memikirkan tentang nilai-nilai, akan tetapi lebih bertumpu pada mana yang dianggap lebih bermanfaat. Kebenaran yang mengikuti kebutuhan. Kebenaran yang diikuti dan dibangun melalui kehendak manusia selaku mahluk sosial dan disusun diatas kepentingan individu. KEBENARAN IDEOLOGIS. Kebenaran berdasarkan keyakinanadalah satu kebenaran yang diakui oleh pengikutnya sebagai kebenaran satu-satunya. Kebenaran yang diikuti oleh rasa fanatisme secara menyeluruh tanpa kompromi. Kebenaran yang dengan tegas membedakan antara hitam dan putih, merupakan satu kebalikan yang kontras dengan kebenaran alternatif. Akan tetapi kebenaran ini sering berbenturan akibat adanya satu perbedaan penafsiran, sesama kebenaran ideologis. KEBENARAN HAKIKI. Kebenaran hakiki, adalah kebenaran yang diakui oleh siapapun, inilah kebenaran yang sebenarnya. Akan tetapi, kebenaran ini belum pernah tersentuh, belum pernah terjamah dan belum pernah dimengerti juga belum pernah dibuktikan. Kebenaran dengan segala misteri yang ada didalamnya, menyatu dengan hati nurani. Kebenaran yang dicari dengan metode ilmiah, yang temuannya selaluterbantahkan oleh temuan berikutnya. Kebenaran yang dihindari oleh kebenaran relatif karena ketidak mengertiannya. Kebenaran yang di klaim sebagai kebenaran ideologis tapi yang akhirnya berbenturan sesama kebenaran ideologis sendiri karena perbedaan penafsiran. Kebenaran hakiki memang tidak akan pernah tersentuh, akan tetapi keyakinan akan adanya kebenaran hakiki hanya akan ditemukan dengan petun juk yang diyakini kebenarannya. 13682924122038568465 Gambar ihdinaa alshshiraatha almustaqiima, shiraatha alladziina an'amta 'alayhim ghayri almaghdhuubi 'alayhim walaa aldhdhaalliina Tunjukilah kami jalan yang lurus,yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Lihat Filsafat Selengkapnya
kebenaran hakiki hanya milik allah